“SAHAM” KH. HASYIM ASY’ARI UNTUK NKRI

Oleh : KH. M. Muhlasin *

Tahun 2018 ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan merayakan kemerdekaanya yang ke 73. Selama itu pula Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 menjadi dasar Negara. Namun beberapa bulan belakangan ini, Dasar Negara Indonesia seakan mendapat “ujian”, ada beberapa elemen masyarakat yang mencoba menawar dan merubah Dasar Negara. Sampai pada akhirnya Presiden Joko Widodo pada tanggal 19 Mei 2017 menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 54 Tahun 2017 Tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Dengan adanya Perpres ini pemerintah perlu (kembali) melakukan aktualisasi terhadap nilai-nilai Pancasila di kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga pembinaan ideologi Pancasila terhadap seluruh penyelenggara negara dapat terencana, sistematis dan terpadu dapat terwujud.

Padahal, sejarah kemerdekaan yang di peroleh Bangsa Indonesia 73 tahun yang lalu, bukan “given” dari penjajah, tetapi kemerdekaan tersebut dilalui dengan penuh “darah dan air mata”. Dalam proses memperoleh kemerdekaan tersebut, para pejuang kemerdekaan juga tidak lupa telah merumuskan Dasar Negara yang telah melibatkan berbagai emelen bangsa sehingga tercapai kesepakatan bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah pilihan bersama yang dapat menyatukan ke-bhinekka-an (Agama, Suku, Ras dan Golongan) yang ada di Indonesia.

Salah satu pejuang kemerdekaan yang merumuskan Dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 adalah Hadratus Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari (1871-1947). Kyai Hasyim Asy’ari tentu tidak “sembrono” dalam memilih Dasar Negara, kecintaan Kyai Hasyim Asy’ari terhadap NKRI tidak perlu diragukan lagi. Perjuangan Kyai Hasyim bersama seluruh elemen bangsa sebelum Indonesia merdeka sangat jelas, terukur dan terencana.

Pondok Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama
Garis perjuangan yang diambil oleh Kyai Hasyim Asy’ari adalah memproduksi Sumber Daya Manusia. Dengan bekal kemampuan yang dimiliki setelah pulang menimba ilmu Agama Islam di Mekkah, Kyai Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, pada tanggal 3 Agustus 1899. Pada tahun 1942, Badan Intelegen Pemerintah Jepang kala itu dibuat “ketar ketir” karena jumlah santri dan ulama di Pulau Jawa berjumlah sebanyak 25.000 orang, semuanya pernah menyantri di Pesantren Tebuireng Jombang. Tidak terkecuali ulama besar, pendiri, dan pengasuh pondok pesantren seperti KH. Wahab Hasbullah (yang pernah menjadi lurah di Pondok Pesantren Tebuireng), KH. Bisri Syansuri, Pendiri Pondok Pesantren Denayar, KH. Chudori, Pendiri Pondok Pesantren Tegalrejo, KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Maksum Ali, Pendiri Pesantren Seblak, KH. Adlan Ali, pendiri PP. Walisanga Cukir (A. Mubarak Yasin dan Fathurahman Karyadi, Profile Tebuireng). Peran Kyai Hasyim Asy’ari, melalui Pesantren Tebuireng Jombang inilah lahir ribuan ulama yang menebarkan ajaran “kebenaran” bukan menyebarkan ajaran “kebencian” seperti ajaran yang marak di Indonesia belakangan ini.

Selain memproduksi Sumber Daya Manusia melalui Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. “Saham” Hadratus Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari untuk NKRI adalah dikeluarkannya Resolusi Jihad (fatwa) pada Tanggal 22 Oktober 1945. Kyai Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa berjuang membela tanah air sebagai suatu “jihad fi sabilillah” dan hukumnya fardhu ‘ain. Siapa saja yang berjuang membela tanah airnya dijamin oleh Kyai Hasyim Asy’ari termasuk golongan syuhada.

Adapun Resolusi Jihat tersebut berbunyi (1) kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan, (2) Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang syah wajib dibela dan diselamatkan, (3) Musuh Republik Indonesia terutama Belanda yang datang dengan membonceng tugas-tugas Negara tentara sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang, Bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia, (4) Umat Islam terutama Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia, (5) Kewajiban tersebut adalah suatu jihat yang menjadi kewajiban tiap-tiap orang Islam (fardhu ‘ain) yang berada pada jarak radius 94 KM (jarak dimana umat Islam diperkenankan sembahyang jama’ dan qashar). Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam radius 94 KM tersebut. (Mukani, Berguru ke Sang Kyai, Kalimedia).

Fatwa inilah yang membakar semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, rela berkorban untuk bangsa dan Negara. Kyai Hasyim Asy’ari dan Nahdlatul Ulama harus menjaga keutuhan NKRI dari ancaman siapapun juga.

Apa yang telah dilakukan oleh Hadratus Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari untuk Indonesia dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat jelas dan nyata. Kyai Hasyim Asy’ari dengan sepenuh hati sangat cinta terhadap Indonesia, nilai-nilai keislaman dan keindonesian bisa di kolaborasikan menjadi Islam rahmatan lil alamin. Dengan Kyai Hasyim Asy’ari Islam di Indonesia sangat moderat dan jauh dari kesan “menyeramkan”.

Sudah sepantasnya Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Kyai Hasyim Asy’ari gelar Pahlawan Nasional tanggal 17 November 1964 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 294 Tahun 1964. Disamping itu, Pemerintah Republik Indonesia juga menjadikan Tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, dan terakhir kali nama Kyai Hasyim Asy’ari menjadi nama Masjid Raya Jakarta yang di resmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 14 April 2017 lalu.

Walaupun jasad Kyai Hasyim Asy’ari telah dikebumikan pada tahun 1947 lalu, tetapi Kyai Hasyim Asy’ari masih terus ada dan tetap ada untuk Indonesia. Al-fatehah.

 

*KH. M. Muhlasin
– Ketua Tanfidziyah PC NU Kota Balikpapan
– Pengasuh Ponpes Al-Izzah Kota Balikpapan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.